Friday, 19 September 2014

Transliterasi Syair Ken Tambuhan
Versi Klinkert


1.
Dengarkan tuan kisa  bermula
Citranya ratu dahulu kala/
Saban dari batara kala
Negerinya besar tidak bercela(h)/
Nama negerinya Cempaka Jajar
Tahta kerajaan amatlah besar/
Tidak terbilang rakyat dan laskar
Segenap negeri kedengaran khabar/
Beberapa banyak menteri dimati
Takluk kepada ratu yang sakti/
Datang meng(h)adap tidak berhenti
Sebilang tahun menghantarkan upeti/
Beberapa raja-raja  yang bermahkota
Nunduk hidmat ke bawah tahta/
Menghantarkan putranya emas dan harta
Sekalianlah di bawah titah Sang Nata/
Demikianlah pesannya Ratu Kuripan
Negerinya cukup alat kelengkapan/
Gagah berani usulnya tampan
Banyaklah raja-raja malu dan sopan/
Beberapa pula bawahan negeri
Persembahkannya putranya putri/
Serta segala anak-anak menteri
Ke bawah duli Ratu Bastari//

2.
Masyhurlah wartanya ratu terbilang
Negerinya ramai bukan kepalang/
Dengan permainan tidak berselang
Berjamu menteri punggawa hulubalang/
Terlalu suka Ratu Pastari
Serta dengan permaisuri/
Melihat paras segala putri
Dipeliharakannya seperti putranya sendiri/
Diperbuatkan baginda taman suatu
Dipagarnya dengan kota batu/
Terlalu indah tamannya itu
Tempat menaruh anak para ratu/
Di tengah taman sebuah kolam
Ditepinya diikat dengan batu itam/
Airnya jernih tiba dalam-dalam
Sekedarnya boleh tempat menyelam/
Beberapa banyak bawahan istana
Beratur dengan jem(b)atan ratna/
Kuntum dan bunga berbagai warna
Burung dan angkasa berjenis di sana/
Di dalam taman sebuah balai
Perhiasannya inda tidak ternilai/
Bertulis awan bunga bertangkai
Kalau angkasa berbagai-bagai/
Balainya diperbuat empat puluh ruang
Tingkapnya berukir berkerawang/
Di batu di cermin kaca diselang
Disinar syams gilang-gemilang/
Di sanalah berhimpun segala putri
Beserta sekalian anak menteri/
Dititahkan oleh permaisuri
Duduk bertenun sehari-hari/
Sebermula Sri Nara Indra
Baginda tua konon sudah berputra/
Seorang laki-laki tiada bertara
Raden tua tidak bersaudara/
Namanya Inu Kertapati
Arif dan bijak perwira sakti//
3.
Parasnya laksana yang sesejati
Segala yang melihat gila beringati/
Diperbuatkan baginda sebuah istana
Lengkaplah  dengan jambangan setana/
Segala permainan ada di sana
Tempatnya itu yang bijaksana/
Tujuh belas tahun umurnya anakanda
Terlalu kasih ayahanda dan bunda/
Beberapa kedayan  yang muda-muda
Sekaliannya anak menteri berbeda/
Selamanya besar raden menteri
Mungkin bertambah sayangnya negeri/
Memalu gamelan sehari-hari
Berjenis permainan sahaja dicahari/
Segala anak menteri yang muda-muda
Berlajar memanah di atas kuda/
Sentiasa hadirlah ada
Sedia melayani putra baginda/
Tersebutlah kisahnya suatu peri
Citranya ratu diangkat diri/
Baginda berputra seorang putri
Parasnya laksana anak-anak sang biduari/
Namanya Raden Puspa Kencana
Elok manjelis terlalu bina/
Dengan perintah dewa yang gana
Putri pun lenyap di taman setana/
Adalah kepada suatu hari
Bermain ke taman raden putri/
Diiringkan sekalian anak-anak menteri
Inang pengasuh kanan dan kiri/
Sudah bersiram lagu memakai
Kalah pun duduk di atas balai/
Mangku berbunga berbagai-bagai
Ada yang berkarang ada yang bertangkai/
Ramainya tidak lagi terperi
Dengan dayang-dayang anak-anak menteri/
Ada yang setengah bertindak menari
Datanglah pertanda Dewa Johari//

4.
Sekonyong-konyong gelap gulita
Matahari tidak kelihatan nyata/
Kilat dan petir jangan dikata
Sekaliannya tersujutlah anggota/
Datanglah dewa dengan hebatnya
Disambarnya putri serta pengasuhnya/
Gaib dermata dayang sekaliannya
Masing-masing tersujut dengan tangannya/
Gempar dan geger dayang sekalian
Masing-masing berteriak berlarian/
Ada yang dahulu ada yang kemudian
Sambil menyeru sengkuta dan bina/
Lenyaplah sudah raden putri
Sekalian menangis pulang berlari/
Meng(h)adap Sang Nata dewa laki istri
Baginda pun tersujut tidak terperi/
Sekaliannya mengharu dikata
Berdatang sembah dengan airnya mata/
Anakanda disambar sukma dewata
Bina dan sengkuta bersama semata/
Setelah baginda men(d)engarkan sembah
Kedua  laki istri pinginlah merabah/
Seisi  istana baginda gelabah
Selaku belalang yang kena tubah/
Menderulah ratu di dalam puri
Mengatakan hilang raden menteri/
Masuklah patih sekalian menteri
Mengerahkan punggawa pergi mencahari/
Sekalian menyembah membawa angkatan
Pergi mencahari segenap hutan/
Meratalah padang gunung daratan
Ada kulon ada yang ke wetan/
Hati beberapa bulan dan termasya
Punggawa mencahari sehabis kuasa/
Segenap negeri peminggiran dan dunia
Jurang lautan semuanya diperiksa/
Kembalilah segala punggawa menteri
Termasuk meng(h)adap patih Johari//
5.
Ratalah sudah beta mencahari
Tiadalah bertemu dengan raden putri/
Patih pun segera meng(h)adap Sang Nata
Persembahkan seperti kabar dan warta/
Setelah baginda men(d)engarkan kata
Jujur terhambur airnya mata/
Lebihlah pula menangis permaisuri
Sambil meratap berbagi peri/
Anak Angsuna Kemala negeri
Ke manakah tuan membuangkan diri/
Buah hati emas tempawan
Putranya bunda hanyalah tuan/
Hidup dan mati tidak ketahuan
Di desa mana anakku tertawan/
Putra Angsuna cahaya durja(h)
Anakku biasa bunda permanja/
Dari kecil sampai remaja
Seperti berhala bunda memuja/
Di manakah tempat emas juwita
Dibuangkan oleh sukma dewata/
Sampai bunda pergi beserta
Hidup dan mati bersamalah kita/
Di gunung mana anakku diletakkan
Di hutan mana tuan disesatkan/
Betapakah perinya minum dan makan
Mengapa bunda tuan tinggalkan/
Putraku biasa tidur di tilam
Barangkali terjatuh di hutan yang kelam/
Tercampak karangan di jurang yang dalam
Bunda bercinta siang dan malam/
Permaisuri menangis menepuk dada
Sambil meratap menyeru anakanda/
Putra bangsawan jiwanya bunda
Suramlah cahaya mahkota ayahanda/
Sangatlah menangis permaisuri
Selaku pingsan merebahkan diri/
Olehnya baginda segera disandari
Ramailah menangis seisinya puri//

6.
Baginda bertitah dengan airnya mata
Buaya jangan sangat bercinta/
Sekaliannya sudah dikehendak dewata
Beserta untung nasibnya kita/
Duduklah baginda dua laki istri
Bercintakan anakanda sehari-hari/
Sunyi dan  senyap di dalam puri
Selaku orang sakti sengkari/
Tersebutlah pula kisah rencana
Perihalnya Raden Puspa Kencana/
Tatkala disambar dewata yang gana
Dijatuhkannya ke hutan rimba Kana/
Seraya disatunya batara kala
Semoga didapat Prabu Benggala/
Jikalau mati hidup semula
Kemudian bertemu ayahanda empula/
Setelah berhenti hujan dan ribut
Teranglah sudah yang kelam kabut/
Putri menangis bundanya disebut
Oleh pengasuhnya sukar disambut/
Ken Bayan memeluk Ken Sengkuta meriba
Dilihatnya semak hutan dan rimba/
Aduh tuanku  dewa Sekaraba
Kita pun di hutan tiga berhamba/
Sangatlah menangis raden putri
Memeluk pengasuhnya kanan dan kiri/
Bapa aji ibu suri
Mengapa dibuangkan petaka kemari/
Kakang  kedua marilah pulang
Desaku takut sangatlah walang/
Ken Bayan pun belas bukan kepalang
Air matanya terhamburan tidak berselang/
Akan Ken Sengkuta jangan dikata
Bercucuran dengan airnya mata/
Diamlah tuanku emas juwita
Serahkan diri kepada dewata/
Tersebutlah perkataan Ratu Kuripan
Pergi bermain-main ke dalam hutan//
7.
Diiringkan menteri alat kelengkapan
Serta senjata lembing sumpitan/
Tiada pula dipanjangkan kisah rencana
Bertemulah Raden Puspa Kencana/
Baginda pun suka terlalu bina
Segera dibawanya pulang ke setana/
Setelah sampai ke dalam puri
Baginda semayam dua laki istri/
Terlalu suka permaisuri
Olehnya baginda mendapat putri/
Parasnya elok gilang-gemilang
Sedap manis bukan kepalang/
Patutlah dengan subang dan gelang
Segala yang melihat birahi dan walang/
Segala yang meng(h)adap memandang serta
Kasih dan sayang rasanya cinta/
Parasnya laksana kembar dipata(h)
Seperti akan lenyap dipandang mata/
Masing-masing berkata sama  sendiri
Inilah karangan anak-anakkan bidadari/
Sahaja menjelma datang kemari
Tiada berbanding di dalam negeri/
Ada yang setengah pula berkata
Beruntung sekali duli mahkota/
Mendapat putri anak dewata
Pakaiannya lengkap intan permata/
Isi istana ramai berperi
Sungguhlah seperti katanya diri/
Pengasuhnya kedua manis berseri
Selaku rupa anak-anak menteri/
Sekaliannya orang berkata-kata
Memuji-muji tidak yang lata(h)/
Semuanya didengar oleh Sang Nata
Baginda pun sangat suka cita/
Ditaruhkan oleh baginda ratu
Di dalam taman bukuta batu/
Dengan para putri bersama di situ
Sebuah istana tempatnya itu//
8.
Kasihnya baginda tidak terperi
Dipeliharakan seperti putranya sendiri/
Berpuluh dayang pengasuhnya diberi
Dilebihkan dari pada segala putri/
Empat belas tahun umurnya tuan
Dinamakan ratu Ken Tambuhan/
Cantik manjelis usul pilihan
Ken Bayan dinamakan Ken Tambuhan/
Sungguh dikira Ken penglipur
Ialah pengasuhnya jadi pengibur/
Dengan Ken Tadahan sama seatur
Terlalu manis bahasa dan tutur/
Di dalam banyak para putri
Putranya ratu diangkuh diri/
Kasi baginda dan permaisuri
Berjelis pakaian pula diri/
Seibanya Ken Tambuhan
Dengan para putri berkasih-kasihan/
Lemah lembut barang lakunya kelakuan
Segala yang melihat dan kasihan/
Terlalu baik budi bahasanya
Berpanutan dengan rupa parasnya/
Terlalu manis pekur sapanya
Segala yang memandang gemar rasanya/
Adalah kepada suatu malam
Ken Tambuhan melangkah dekat pualam/
Bermain sampai jauh malam
Lalu merapat di atas tilam/
Ditunggui oleh Ken penglipur
Dengan Ken Tadahan duduk beratur/
Katanya adinda marilah tidur
Janganlah banyak kata dan tutur/
Raden  putri sudah beradu
Kita kedua duduk bertangku(h)/
Janganlah diri berbaik cumbu
Tahulah beta diri berilmu/
Adapun akan Ken Tambuhan
Bermimpikan bulan jatuh keribaan//
9.
Cahayanya penuh seluruh badan
Pinggangnya dililit paka kena benturan/
Ken Tambuhan terkejut lalulah jaga
Hari pun siang fajar terbuka/
Tercengang berpikir rasanya duka
Mimpi nian apa hartinya juga/
Ia pun berhati gelabah
Wajah yang manis pucat berubah/
Pengasuhnya kedua berdatang sembah
Mengapa tuanku berupa gundah/
Sangatlah berubah dipandang mata
Durja(h) yang manis selaku bercinta/
Ken Tambuhan perlahan menjawab kata
Kakang Waya galuh kapala beta/
Marilah kakang kita nian mandi
Karena hari sudahlah tinggi/
Orang berkerja dari tadi
Aku nian juga yang belum pergi/
Pergilah mandi Ken Tambuhan
Digosok oleh Ken Tadahan/
Sudah mandinya bersalin basahan
Penglipur pun mengangkat persantapan/
Sudah santap putri bangsawan
Santap sirih di dalam puan/
Serta memakai bahu-bahuan
Wajahnya masgul kepilu-piluan/
Tiada memakai sekedar bersahaja
Bertepi kemari bunga seroja/
Usulnya manjelis sedang remaja
Laksana kembar baharu dipuja/
Bersimpuh lesuh jingkat pengeras
Bertelepuk perada bunga Antelas/
Tepinya bertulis dengan air emas
Mungkin bertambah baik paras/
Berparas pudi diselang
Tiga sebelah memakai kalung/
Bersubang intan jemaring
Cahayanya memancuri gilang-gemilang//
11.
Memakai cincin permanis jari
Emas di kanan intan di kiri/
Mangkin bertambah manis berseri
Laksana bulan empat belas hari/
Bibirnya merah seperti dipata(h)
Giginya berkilat samaradanta/
Sederhana elok tiada yang lata(h)
Segala yang memandang gairah di cita/
Sudah santap sekapur
Bermudah kepada Ken Penglipur/
Kakang Waya jangan berbanyak tutur
Marilah kita kembali kengasur/
Berbangkit turun Ken Tambuhan
Berjalanlah ia perlahan-lahan/
Diiringkan penglipur dengan Ken Tadahan
Sebarang lakon memberi kasihan/
Setelah sembunyi ia kembali
terlalu manis membuang lambi/
Terkira-kira pencana sabi
Segala yang memandang heran terlali/
Bersunting bunga cempaka di kubah
Berpatutnya dengan usul yang indah/
Putih kuning sederhana merendah
Meng(h)adap tersenyum manis bertambah/
Demi dilihat segala para putri
Sekaliannya menegur durja(h) keberseri/
Silakan naik adinda kemari
Mengapakah datang  tinggi hari/
Marilah duduk adinda tuan
Apakah sakit emas tempawan/
Berupa sendu sebarang kelakuan
Kakanda memandang belas dan rawan/
Ken Tambuhan tersenyum mencoba kata
Kakang Waya galuh kepala beta/
Men(d)engar penglipur bercerita
Menjadi arif rasanya mata/
Suka tertawa segala para putri
Sepatah seorang bersenda perii//
12.
Berguru jenaka sama sendiri
sekaliannya manis durja(h) berseri/
Ken Tambuhan duduk kepada tempatnya
Di sebelah pintu peranginannya/
Berbagai jenis rupa tenunnya
Terlalu indah perbuatannya/
Sungguh pun duduk lakunya sendu
Semayam di atas hamparan beledu/
Teringatkan mimpinya rasanya pilu
Apalah juga harti mimpiku/
Terhentilah perkataan segala para ratu
Tersebutlah kisah raden menteri/
Bersuka-sukaan sehari-hari
Makan dan minum tapak dan tari/
Sudah bermain meng(h)adap ayahanda
Terlalu suka hati baginda/
Memandang paras paduka anakanda
Sang Nata tersenyum seraya bersabda/
Apalah bicara yayi suri
Sudahlah besar anak menteri/
Sedang patut merintahkan negeri
Baiklah kita pinangkan putri/
Dimanakah raja-raja ada putranya
Yang baik paras sama dengannya/
Kanda patih baik bertanya
Kalau-kalau ia ada men(d)engar khabarnya/
Suka tertawa permaisuri
Sambil bertitah kepada raden menteri/
Adakah mau anakku beristri
Supaya ayahanda pinangkan putri/
Demi raden men(d)engarkan titah
Tunduk tersenyum seraya menyembah/
Berupa malu durja(h) berubah
Elok manjelis manis bertambah/
Segala yang meng(h)adap suka cita
Tidaklah lepas dipandang mata/
Melihat paras bagai dipata(h)
Ada yang setengah gila berangta//
Analisis Syair Ken Tambuhan
` versi Muhammad Bakir dan versi Klinkert
Syair Ken Tambuhan ini ditulis dalam banyak versi, diantaranya adalah versi Muhammad Bakir, Klinkert, dan berbagai versi lainnya. Karena banyaknya versi dalam penulisan syair ini sehingga mengakibatkan adanya variasi cerita. Dalam laporan diskusi ini penulis akan membandingkan penggalan Syair Ken Tambuhanversi Muhammad Bakir dan versi Klinkert untuk mengetahui perbedaan apa saja yang terdapat dalam kedua versi tersebut.. Berikut ini adalah perbandingan Syair Ken Tambuhan antara kedua versi tersebut.
  1. 1.      Perbandingan dari Segi Fisik
  • Syair Ken Tambuhan versi Muhammad Bakir
Syair versi Muhammad Bakir ini ditulis dengan aksara Arab yang penulisan hurufnya renggang-rengang (tidak terlalu rapat) sehingga lebih mudah untuk dibaca. Pada halaman pertama syair ini tidak terdapat hiasan apa pun sehingga tampilannya terlihat begitu sederhana. Selain itu, penulisan teks syair ini sesuai dengan kaidah yang lazim digunakan dalam penulisan syair, yaitu tiap halaman dalam syair ini terdapat dua lajur, lajur kanan dan kiri. Dalam versi Muhammad Bakir ini, setiap halamannya terdiri atas delapan belas baris dan setiap dua baris merupakan satu bait sehingga dalam satu halaman terdapat sembilan bait dengan rima a-a-a-a. Tulisan dalam versi ini juga masih dapat terbaca dengan jelas karena tidak ada tulisan yang warna tintanya mulai pudar.
  • Syair Ken Tambuhan versi Klinkert
Hampir sama dengan syair versi Muhammad Bakir, Syair Ken Tambuhan versi Klinkert ini juga ditulis dengan aksara Arab. Namun, yang membedakan keduanya adalah versi Klinkert ini ditulis dengan aksara yang lebih rapat sehingga lebih sulit untuk dibaca. Selain itu, pada halaman versi ini terdapat hiasan yang mebuat tampilannya terlihat lebih menarik dibandingkan versi Muhammad Bakir. Dalam penulisan syair versi Klinkert ini sendiri sama dengan versi Muhammad bakir, yaitu tiap halamannya terdapat dua lajur, lajur kanan dan kiri. Dalam versi ini, setiap halamannya terdiri dari sembilan belas baris, kecuali halaman pertama yang terdiri dari dua belas baris, sehingga tidak dapat dipastikan ada berapa bait setiap halamannya. Namun, rima dalam versi ini tidak berbeda dengan versi Muhammad Bakir karena versi ini juga menggunakan rima a-a-a-a. Pada beberapa bagian dalam syair versi ini tidak terbaca dengan jelas karena warna tinta yang mulai pudar.
2.      Perbandingan dari Segi Bahasa
  • Syair Ken Tambuhan versi Muhammad Bakir
Syair Ken Tambuhan versi Muhammad Bakir ini ditulis di daerah Pecenongan, Betawi, sehingga mengakibatkan syair ini begitu kental dengan bahasa Betawi. Penggunaan bahasa Betawi dalam penulisan syair ini mengakibatkan syair ini begitu dekat dengan orang-orang Jakarta karena bahasanya yang sederhana dan mudah dipahami. Selain itu, dalam versi ini banyak terdapat pelesapan fonem /h/, seperti pada kata suda yang seharusnya sudah, dan pada  puti yang seharusnya putih, dan penggunaan kata tiada yang menyatakan tidak. Dalam penulisan syair ini juga terdapat beberapa kata yang berasal dari bahasa Arab, seperti latif yang berari elok atau lembut dan tif  yang berarti gendang kecil, serta beberapa kata lainnya.
  • Syair Ken Tambuhan versi Klinkert
Syair Ken Tambuhan versi Klinkert ditulis di daerah Palembang sehingga penulisan syairnya pun sangat kental dengan bahasa Melayu. Penggunaan bahasa Melayu dalam penulisan syair versi Klinkert ini mengakibatkan syair ini sulit dibaca dan sulit untuk memahami makna yang terkandung dalam syair ini karena bahasanya yang begitu asing untuk orang-orang zaman sekarang. Dalam syair versi Klinkert ini begitu banyak kata-kata yang saat ini sudah tidak digunakan lagi, seperti Nata, duli, manjelis, junun, sanja, kuba, udu, suasa, dan kata-kata lainnya.
3.      Perbandingan dari Segi Isi atau Cerita
  • Syair Ken Tambuhan versi Muhammad Bakir
Syair versi Muhammad Bakir ini menceritakan sebuah kerajaan bernama Kuripan. Ratu di kerajaan Kuripan tersebut belum memiliki anak sehingga sang Raja ingin mengumpulkan putri-putri bangsawan dari seluruh negeri untuk dibesarkan. Tak berapa lama kemudian, sang Ratu melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Raden Inu dan anaknya tersebut merupakan putra mahkota di kerajaan tersebut.
Pada suatu hari, sang Raja pergi ke hutan dan di sana sang Raja bertemu dengan seorang putri bernama Ken Tumbuhan. Akhirnya Ken Tumbuhan dibawa pulang ke istana. Permaisuri begitu senang melihat Ken Tumbuhan karena Ken Tumbuhan adalah putri yang baik dan begitu sopan. Akhirnya, Ken Tumbuhan dibesarkannya dan menjadi ratu di kerajaan tersebut.
Cerita dalam syair versi Muhammad Bakir ini begitu mudah dimengerti karena penggunaan bahasa dan alurnya yang sederhana.
  • Syair Ken Tambuhan versi Klinkert
Pada dasarnya, inti cerita syair versi Klinkert tidak jauh berbeda dengan versi Muhammad Bakir. Perbedaannya terletak pada nama tokoh, alur, dan usia tokoh. Untuk dapat memahami cerita dalam syair versi Klinkert dibutuhkan konsentrasi yang lebih dalam karena penyampaiannya yang berbelit-belit (terlalu detail).
KESIMPULAN
Menurut kelompok kami, Versi Klinkert lebih tua dari versi M. Bakir. Hal ini didukung oleh beberapa hal berikut:
  1. Bahasanya masih kental dengan dialek Melayu
  2. Banyak kata-kata yang saat ini sudah tidak produktif lagi
  3. Banyak kata-kata yang sulit dimengerti, bila dibandingkan dengan versi betawi (lebih dekat dengan bahasa sehari-hari)

Daftar Kata
(Ber) sanja       : sajak
Aji                     : raju, raja
Antelas             : sejenis kain sutera yang berkilat
Awan                : corak ukiran
Bastari/ Pastari : cerdas, pandai, berpendidikan, berpengetahuan, baik budi pekerti
Bayan  : burung nuri
Berangta           : berahi, cinta kasih
Berkarang         : sudah lama benar
Berkerawang    : kain tenun bersulam yang berlubang-lubang
Duli                 : abu, debu
Gana                 : kaya; bingung atau hilang akal
Gelabah            : sedih, gelisah, susah hati
Gemilang          : bercahaya, terang-benderang
Junun               : gila
Kedayan           : pelayan, pengiring, hamba, orang suruhan
Kemala             : batu bercahaya yang dipercaya banyak dapat mendatangkan hikmah
Kuba               : makam
Latif                : elok, lembut
Manjelis            : cantik, elok
Menengari → tengari  : tengah hari
Meriba              : memangku
Nata                : baginda, raja
Peminggiran      : perbatasan kota atau negara
Perada               : sejenis kertas dari emas atau perak yang tipis untuk perhiasan (membuat tulisan, dan sebagainya)
Samaradanta     : sangat putih (untuk gigi)
Suasa               : campuran emas dan tembaga
Subang            : anting
Tempawan       : sesuatu yang sudah ditempa
Terlali              : hilang perasaan
Tif                   : mantra
Tilam               : alas tidur
Udu                 : musuh, seteru
Usul                 : yang semula, sejati, asli, atau sebenarnya
Walang            : duka cita, gelisah, khawatir, bersusah hati
DAFTAR PUSTAKA 
 Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia. 1989. Kamus Dewan. Selangor: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka.
Dewan Bahasa dan Pustaka. 2003. Kamus Bahasa Melayu Nusantara. Bandar Seri Begawan: Dewan Pustaka dan Bahasa Brunei.
Klinkert, H.C. 1930. Niew Maleisch-Nederland SCH Woodenboek. Leiden.
Syahrial. 2008. Syair Ken Tambuhan dari Betawi: Sebuah Cerita Panji versi Muhammad Bakir. Jakarta: Penerbit Rumah.

No comments:

Post a Comment